Bebek goreng

Hari ini dapat bebek goreng gratis… kalo orang bilang, siapa sih yang ga mo gratisan…awalnya nafsuuuu anget pengen makannya. Tapi, setelah mencerna pikiran pelan-pelan rasanya terlalu tamak untuk mengkonsumsinya. Kolesterol. Fiuh..kadar kolesterol pada bebek apalagi yang sudah mengalami proses penggorengan (lebih lagi kalau proses tersebut dilakukan di rumah makan dengan porsi bahan yang harus digoreng lebih banyak daripada porsi rumahan) cukup tinggi. Ada satu kawan saya setelah memakan satu potong bebek goreng plus sambel pecel dan nasi uduk, langsung mengalami efek hebat kolesterol bebek. begorSeluruh badan pegal dan kepala terserang migrain…

Akhirnya makan siang tadi diputuskan berupa dua macam sayuran dan tumis cumi serta satu potong tahu semur. Menurutku, cukup sehat sebagai menu makan siang di warung tegal dekat kantor, heee…

Daan..tidak kuat menahan godaan ’seonggok’ bebek goreng di piring kecil diatas meja kerjaku…ugh, cicip sambalnya dan tidak berhenti menggigit bebeknya sedikit demi sedikit…ouw…

Pedas..enak..dan pastinya…kolesterol..ugh…

Hilang Jerat

Saat itu kuning

kemudian memerah, dengan semburat ungu muda dimana mana

berubah menjadi warna muda

merah muda….

Sebelumnya hijau, begitu tua hingga nyaris tak berdaya lagi

hijau buruk

licin dengan lumut

Tanganku tergelincir

menoreh garis yang terputus sia sia

aah…dia tak peduli aku ingin hilang jeratnya

mendekap dengan bara nafsu yang tak lagi

ingat akal

Dan aku muak.. muak dan muntah tercecer

kumuh

aku, diriku, kotor…

Kembali dan berdiri lagi

buang semua hijau itu

buruk itu

Saat ini, …kuning

kemudian memerah, dengan semburat ungu muda dimana mana

berubah menjadi warna muda

merah muda….

————————

Perangkap yang kemarin

membaur dengan hidupku

tak terlihat lagi..

hilang jeratmu

meski kadang aku rindu….

————————

Kepala Ikan

Siang itu, kepadaku yang sembari mengupas kulit kentang, Ibu bercerita satu hal yang menarik. Tentang kepala ikan. Bahwa dalam kondisi dua orang sudah tinggal bersama untuk sekian waktu yang lama bahkan belum bisa memahami keinginan satu sama lain.

“Setiap hari Istri selepas pulang bekerja menyiapkan makanan untuk disantap anak-anak dan suaminya. Hidangan tersebut diolah dengan tangannya sendiri. Sehingga timbul rasa iba apabila makanan tersebut tidak habis atau terbuang. Lagipula melihat keadaan kini, dimana semua serba mahal tentu sang Istri berpikir itu ‘pemborosan’, mubazir. Dan yang paling sering terbuang adalah kepala ikan. Sang Istri akhirnya selalu menghabiskan kepala-kepala ikan yang ‘dibuang’ atau tersisa dari pinggan makan anak-anaknya. Begitu selalu yang terjadi. Dan sang Suami tak luput memperhatikan hal itu. Melihat sang Istri selalu habis menyantap kepala-kepala ikan itu bahkan kepala-kepala ikan yang ada dipiring para anak, sang Suami pun berpikir istrinya sangat menyukai kepala ikan.

Dan tiba hari itu. Hari ulang tahun sang Istri. Hari itu semua bergembira. Anak-anak bahagia, ibu mereka masih dalam keadaan sehat. Sang Istri tidak meminta hadiah apapun. Melihat keluarganya dalam sehat dan lengkap merupakan hadiah tak ternilai untuk dirinya.

“Istriku, izinkan aku memberimu hadiah yang lebih spesial untukmu..” ujar sang Suami seraya tersenyum

Sang Istri tersenyum bahagia membayangkan akankah ada lingkaran berwarna emas untuknya tahun ini, sudah lama sekali tidak ada yang melingkar dijari manisnya semenjak terjual untuk biaya dokter saat Suaminya sakit dahulu.

“Tentu saja Suamiku…” jawabnya jujur. Dan, sang Suami menghilang kedalam kamar dan keluar membawa bingkisan berpita. “Untukmu. Karena aku tahu kau selalu menyukai ini.” kata Sang Suami.

Sang Istri segera membuka bingkisan itu sementara anak-anak mengelilinginya. Kado itu terbuka dan meledaklah tangis sang Istri. Satu kepala ikan kakap. Hadiah dari Suami tercinta…..Dan sang Suami melongo keheranan. “

Hm…contoh yang menarik. Kenapa suaminya tidak berpikir ya? Tidak berpikir bahwa istrinya melahap seluruh kepala ikan agar tidak terbuang percuma, agar uang yang dikeluarkan untuk belanja tidak semena-mena terhambur…,tapi justru dia hadiahkan kepala ikan untuk istrinya…Ooh…’bodoh’nya….

Tapi, satu catatan untuk sang istri menurutku, beritahu anak-anak untuk tidak menyisakan makanan. Apabila mereka tidak meyukainya, lebih baik tidak diambil atau dimakan. Daripada terbuang percuma kan….



Ketika tak lagi berpikir

Malam mulai menjelang pagi, tengah malam sunyi yang ditemani sekelumit suara manis penyanyi pendatang baru yang berteriak sedih kehilangan kekasih, Alex menetakkan jemarinya pada papan huruf yang langsung menyimpan jejak jemarinya di sebuah file baru.

Halaman ini begitu polos sehingga mengundangnya untuk menulis. Tepatnya, menginspirasikannya untuk terus bercerita perlahan tentang hidupnya kemarin. Alex meraih puntung putih di pinggir asbak hitamnya, menghisapnya perlahan dan mengaduh lirih karena benda tersebut sudah habis nyaris setengahnya dan membakar jarinya. Ah, Alex berhenti. Kepalanya sakit, mulai pening….mungkin ini saatnya tidur, terlalu banyak berpikir.

—————————————————————————————

Catatan pribadi:

Menyebalkan. Saat dia berpikir dia memiliki banyak hal untuk dituliskan, tetapi saat benar-benar menghadapi perangkat yang pastinya membantunya menulis, dia tersendat untuk menuliskannya, selalu terjepit pada hal sepele. Nama tokoh. Nama tokoh adalah hal penting baginya, karena tokoh adalah pusat dari keseluruhan cerita, tidak diragukan lagi mestinya setiap cerita bagus akan memiliki nama tokoh yang bagus juga, mempunyai tokoh yang berkepribadian meski namanya sangat-sangat biasa atauuuu….nama tokohnya haruslah lain dari yang lain, sebuah ciri khas untuk suatu cerita yang membungkusnya. Sebuah nama (nama sehari-hari yang dikenalnya, atau nama penuh arti dari suatu mitologi, atau nama dengan arti sesuai bagan cerita yang digubahnya, bisa saja diambil dari bahasa dunia atau bahasa negeri lampau, bahasa doa, bahasa pemujaan, bahasa apa saja…) yang menurut akan inti cerita. Sebuah nama yang pantas, pantas menanggung ‘hidup’ yang diberikan penulis. Dia masih diam, berpikir, nama siapa atau apa yang akan dilahirkannya.

—————————————————————————————————————————————————————————–

……………………….

Detak tak Teratur

PANIK.

Ternyata aku panik. Padahal sebelumnya aku pikir tidak perlu panik. Tapi,

aku panik. Panik. Panik.

Saat mendebarkan itu semakin mendekat. Aku tidak mengerti siapa yang mulai mengejar. Saat mendebarkan itu atau diriku sendiri. Dan, banyak yang belum terselesaikan. Ough! Sah saja kalau aku sebutkan ya…perkara printilan yang printil-printil dan tiba-tiba membuntut memanjang.

Dia masih belum ada dikota ini kembali. Aku mulai merasa tertekan saat teman bertanya hal yang sama dan sudah mulai memulai sedikit demi sedikit. Sedangkan aku…apa aku terlalu menganggap gampang ya? Menyadari hal tersebut akhir-akhir ini. Saat detak teratur (yang berhasil aku atur) mulai riuh tak teratur.

Bagaimana dengan ini? tanyanya.

? jawabku.

Belum pesan? tanyanya.

Ng…sudah. jawabku.

Sudah sekaligus dengan kartu ucapan? tanyanya.

Loh?sekaligus dengan itu ya? jawab dan tanyaku.

Iya…dan sudah pesan yang itu? tanyanya lagi.

Masa sih mesti begitu? jawab dan tanyaku dengan nada tak percaya.

Aku belum pesan yang dia maksud.

Ya ampuuun….jadi apa yang sudah selesai? tanyanya.

Hah?! jawab dan tanyaku. Temanku tertawa dan menggelengkan kepala.

Banyak ternyata. Mesti dilist lagi. Mesti di cek lagi. Mesti dan mesti…ough….

Grey and Blur

Beberapa hari lalu, ada sedikit kericuhan yang cukup riskan untuk diperbincangkan kembali sebenarnya. Tapi, jujur saja aku tidak tahan untuk tidak memulainya. Terserah apa kata mereka nanti, karena menurutku setiap awal pasti ada akhir dan setiap sebab menghasilkan akibat (mengerikan…) dan setiap perbincangan akan ada bantahannya.

Aku hanya memulainya kembali, memilahnya dan berharap itu akan beres sediakala.

TIdak pernah ada habisnya mempersoalkan dua hubungan yang dijalani satu pihak. Kadang itu tidak disengaja, benar..aku tahu itu…tetapi saat kau sadari semua seperti disengaja , kau akan menikmatinya selagi tidak ada yang peduli. Apa yang terjadi sebenarnya? Hanya nukilan dari keinginan yang tidak ingin rutin….sedikit variasi istilahnya…membuat hidup lebih hidup, ahah! Karena apa? Karena aku bosan, dia bosan, kamu bosan, mereka pun bosan….jadi sedikit bumbu di satu sisi mampu buat kau tersenyum kembali….Kau bisa dengan bebas memperhatikan sekelilingmu bahwa kau hidup didalam kehidupan yang luar biasa, tidak sekedar menjadi latar belakang orang-orang ‘hebat’ itu. Kau bisa menjadi dirimu yang kau inginkan menjadi.

Ketika kau telah yakin menjalani hidupmu dengan garis besar mimpimu, suatu saat kau terbangun dan menyadari kau harus hadapi realita, kenyataan yang bisa buatmu bermimpi….dan berpikir kau salah…duuh, apa yang aku bicarakan?? Kebingungan selalu menghampiri orang yang tersesat, tapi tidak apa…kau masih miliki hatimu yang membawa nyala kecil itu. Tidak apa berbalik untuk menyadarkan dirimu. Tidak apa berbalik untuk tetap setia….kami akan menolongmu….hati dan dirimu sendiri.

(the universal’s free….)

Satu Minggu yang Lalu

Tujuh hari. Cukup puas memandang satu minggu yang lalu sebagai sebuah cerita pendek yang mesti ditulis. Saat lewati hari-hari yang berjalan sungguh tidak akan terasa lambat, sangat cepat malah, karena waktu tak pernah menoleh melihat manusia yang ada didalamnya. Waktu hidup sendiri. Independent. Dia menyerahkan keputusan tanpa perlu persetujuan pihak kedua atau ketiga. Misal, kau putuskan untuk hentikan satu minggu yang lalu…pada hari kedelapan kau akan lihat, waktu memberikan kesempatan yang sangat besar sebenarnya bagi manusia untuk menyelesaikan setiap soalnya. Waktu bermurah hati memberikan kelonggaran pada tiap kesalahan untuk segera diperbaiki. Dan, disayangkan semua terlewat begitu saja…..

Aku termasuk didalam kelompok itu. Melewatkan waktu yang berlapang dada seraya tersenyum dengan berpikir “masih ada waktu yang berbaik hati…”, sial….

(sebelum tidurku, September 7, 2008)

Cincin

Kami butuh cincin.

Sebelumnya aku pikir mesti ada satu mata yang bersinar saat ia ditimpa sinar, dia juga memilih itu. Tapi, kelamaan aku pikir cincin tidaklah semestinya bermata…cincin merupakan tanda ikatan…terkecuali cincin pemberian orangtua, yah ,meski itu pun sebuah tanda ‘terikat’ untukmu karena kau belum lagi dewasa demi dirimu sendiri.

Aku lepas cincin pemberian orangtuaku setahun yang lalu. Bukan maksudku memutuskan ikatan mereka, tidak, hanya menunjukkan aku butuh ikatan lain. Dari seseorang yang aku pilih dan memilihku. Bisa saja kamu berpikir aku menyatakan aku tak berikatan dengan siapapun secara implisit.Hah. Terserah pikiranmu saja…
Continue reading

Pregnancy

Then, my friend was told me that his wife were gettin pregnant. The second time.

Mengejutkan buat gue, karena gue tahu cerita mereka gimana. Anak pertama mereka malah sama sekali tidak dirawat langsung oleh sang Ibu. Dan sekarang mau nambah anak, yang kedua, dengan alasan yang ga gitu masuk akal…”Sekalian aja sekarang, daripada nanti malah ga bisa punya anak lagi karena sibuk”. Wah….enak banget bisa bicara begitu…

Continue reading

Bila Tidak sesuai Inginmu

Hari ini, ada beberapa target yang mesti dipenuhi.

Beberapa tagihan yang harus dibayar. Keinginan yang harus terpenuhi. Target pekerjaan yang penuh deadline. Semua harus selesai. Finished or even get vanished.

Awalnya semua berjalan lancar. Menjelang sore hari, tiba-tiba sense awal yang aku rasa mulai berkurang…gettin worse, dan memburuk sama sekali. Semua tidak bisa dipenuhi, tidak bisa diselesaikan. Dan, aku mulai kesal. Mulai merasa pincang sebelah.

Ada pertanyaan untuk diriku sendiri. Kenapa aku selalu begini? kenapa berubah alur, berubah jalur…kupikir aku telah menyelesaikan dengan baik. Semestinya berjalan benar. Dan itu tidak terjadi…a mistake..human error, I do have the error. Always. Seems like the error hide inside me and get up every time I take a little bit succes…

Trough my daily work, my side work and even my daily life…they always got the error…An error occured when I realize and had a smile upon my face.

Aku pengen nonton aja…