Cincin

Kami butuh cincin.

Sebelumnya aku pikir mesti ada satu mata yang bersinar saat ia ditimpa sinar, dia juga memilih itu. Tapi, kelamaan aku pikir cincin tidaklah semestinya bermata…cincin merupakan tanda ikatan…terkecuali cincin pemberian orangtua, yah ,meski itu pun sebuah tanda ‘terikat’ untukmu karena kau belum lagi dewasa demi dirimu sendiri.

Aku lepas cincin pemberian orangtuaku setahun yang lalu. Bukan maksudku memutuskan ikatan mereka, tidak, hanya menunjukkan aku butuh ikatan lain. Dari seseorang yang aku pilih dan memilihku. Bisa saja kamu berpikir aku menyatakan aku tak berikatan dengan siapapun secara implisit.Hah. Terserah pikiranmu saja…


Cincin, sekali lagi cincin…lingkaran yang menutupi sebagian kecil jarimu nanti, terbuat dari lapisan kuning yang sangat berharga….tak perlu bermata. Polos. Itu cukup. Lingkaran yang sama akan dipakainya.

Sayang sekali tidak keburu membelinya saat harga bahan bakar belum lagi naik….tak masalah, cincin kami akan sederhana…tidak masalah…

2 Responses to this post.

  1. “Kok gak pilih yang ada matanya, mas?” Pertanyaan itu keluar dari penjaga toko yang gwe kunjungi kira-kira bulan lalu.

    “Nanti gak bisa ngeliat lho,” lanjutnya setengah bercanda.

    Entah dari mana datangnya, saat itu gwe dengan spontan menjawab: “Ngeliatnya pakai hati, mas…”

    Reply

  2. Posted by echaa on August 22, 2008 at 7:08 am

    Greaat….kepikir aja ma mas toko masnya…ckckckck..ternyata lo dah milih cincin juga yaaa…

    Reply

Respond to this post