PANIK.
Ternyata aku panik. Padahal sebelumnya aku pikir tidak perlu panik. Tapi,
aku panik. Panik. Panik.
Saat mendebarkan itu semakin mendekat. Aku tidak mengerti siapa yang mulai mengejar. Saat mendebarkan itu atau diriku sendiri. Dan, banyak yang belum terselesaikan. Ough! Sah saja kalau aku sebutkan ya…perkara printilan yang printil-printil dan tiba-tiba membuntut memanjang.
Dia masih belum ada dikota ini kembali. Aku mulai merasa tertekan saat teman bertanya hal yang sama dan sudah mulai memulai sedikit demi sedikit. Sedangkan aku…apa aku terlalu menganggap gampang ya? Menyadari hal tersebut akhir-akhir ini. Saat detak teratur (yang berhasil aku atur) mulai riuh tak teratur.
Bagaimana dengan ini? tanyanya.
? jawabku.
Belum pesan? tanyanya.
Ng…sudah. jawabku.
Sudah sekaligus dengan kartu ucapan? tanyanya.
Loh?sekaligus dengan itu ya? jawab dan tanyaku.
Iya…dan sudah pesan yang itu? tanyanya lagi.
Masa sih mesti begitu? jawab dan tanyaku dengan nada tak percaya.
Aku belum pesan yang dia maksud.
Ya ampuuun….jadi apa yang sudah selesai? tanyanya.
Hah?! jawab dan tanyaku. Temanku tertawa dan menggelengkan kepala.
Banyak ternyata. Mesti dilist lagi. Mesti di cek lagi. Mesti dan mesti…ough….
