Malam mulai menjelang pagi, tengah malam sunyi yang ditemani sekelumit suara manis penyanyi pendatang baru yang berteriak sedih kehilangan kekasih, Alex menetakkan jemarinya pada papan huruf yang langsung menyimpan jejak jemarinya di sebuah file baru.
Halaman ini begitu polos sehingga mengundangnya untuk menulis. Tepatnya, menginspirasikannya untuk terus bercerita perlahan tentang hidupnya kemarin. Alex meraih puntung putih di pinggir asbak hitamnya, menghisapnya perlahan dan mengaduh lirih karena benda tersebut sudah habis nyaris setengahnya dan membakar jarinya. Ah, Alex berhenti. Kepalanya sakit, mulai pening….mungkin ini saatnya tidur, terlalu banyak berpikir.
—————————————————————————————
Catatan pribadi:
Menyebalkan. Saat dia berpikir dia memiliki banyak hal untuk dituliskan, tetapi saat benar-benar menghadapi perangkat yang pastinya membantunya menulis, dia tersendat untuk menuliskannya, selalu terjepit pada hal sepele. Nama tokoh. Nama tokoh adalah hal penting baginya, karena tokoh adalah pusat dari keseluruhan cerita, tidak diragukan lagi mestinya setiap cerita bagus akan memiliki nama tokoh yang bagus juga, mempunyai tokoh yang berkepribadian meski namanya sangat-sangat biasa atauuuu….nama tokohnya haruslah lain dari yang lain, sebuah ciri khas untuk suatu cerita yang membungkusnya. Sebuah nama (nama sehari-hari yang dikenalnya, atau nama penuh arti dari suatu mitologi, atau nama dengan arti sesuai bagan cerita yang digubahnya, bisa saja diambil dari bahasa dunia atau bahasa negeri lampau, bahasa doa, bahasa pemujaan, bahasa apa saja…) yang menurut akan inti cerita. Sebuah nama yang pantas, pantas menanggung ‘hidup’ yang diberikan penulis. Dia masih diam, berpikir, nama siapa atau apa yang akan dilahirkannya.
—————————————————————————————————————————————————————————–
……………………….